Berbicara Kepada Cermin

Setidaknya dulu kau jenaka. Di matamu ada tenda sirkus, yang membangkitkan tawa setiap aku duduk di dalamnya. Dan dari bibirmu, sering kudengar suara ayah tengah merayu ibu, drama pagi yang seringkali membuatku terlambat ke sekolah.

Kini kau menjadi sama sekali baru dan aku tak lagi mengenalmu. Kukira kau baru saja mentas dari Kawah Candradimuka, menilik dari betapa kokoh dan saktinya dirimu, membuat kepala-kepala di sekitar tertunduk dan patuh. Atau aku salah sangka dan kau cuma baru saja selesai direbus lantas lepas dari cangkangnya.

Aku bertanya padamu siapa kau, dan kau tanyakan siapa aku ini. Lalu cermin di hadapanku memilih lari sebelum kita sempat mematut-matutkan diri.

Banyumas, 2016

Dalam Kota Kata

jika mimpi mampu membawaku pada kota
tempat jiwa yang nyaris mati seperti kita
dipersatukan

maka waktu akan kupilih sendiri dari etalase
sebuah malam yang panjang atau pagi yang kedinginan

dan tautan nafas akan mulai mengaburkan
kegelisahan kita–menyisakan peluk tanpa perlu
berkata-kata

barangkali setelahnya aku tak ingin bangun lagi
karena di belahan dunia manapun kita tak pernah
punya jatah pertemuan

Banyumas, 2016

Nyala Api di Matamu

aku pernah begitu mencintai matamu
sampai pada ketika yang serta merta
kau memejam lalu sepasang purnama
tenggelam.

dan detik berikutnya yang ada hanyalah
amarah. membakar seperti nyala api yang
tak lagi mampu membedakan mana kayu
mana aku.

aku pernah begitu mencintai matamu
sampai kau temukan aku di depan perapian
dengan tubuh yang bukan milikmu lalu
api pindah ke matamu.

Banyumas, 2016

Reinkarnasi Kata

kita adalah kau dan aku yang
bertemu muka pada larik puisi
barangkali si penyair sengaja
memadu-padankan rima atau
kita cuma muntahan kata-kata
dari sisa mabuknya semalam

dan kalaupun memang cuma kata
aku tak butuh apapun lagi selain
hidup dalam imajinasinya lalu
terlahir kembali tanpa patah logika
hingga keabadian memeluk kita
pada tiap puisi yang dimuliakannya

Banyumas, 2016

Sebuah Rumah untuk Nouri

Kami masih bertahan di dalam keheningan. Kami, aku dan pria yang duduk dihadapanku. Ia masih terlihat sama seperti dua bulan lalu, seperti dua tahun silam, seperti saat pertama kali kami bertemu pada acara seminar di sebuah kota. Sepasang mata coklat terangnya masih sayu seperti dulu, sehingga ketika menatapnya aku merasa seperti hujan hendak jatuh mencumbu tanah. Bibirnya masih melengkungkan senyum favoritku, yang ketika sudut-sudutnya ditarik untuk tertawa, aku merasa tengah mendengar alam berbahagia.

“Bagaimana kabarmu, Nouri?”

Ada kupu-kupu yang menggelitik bagian perutku saat ia bertanya. Suara khasnya. Aku seperti menemukan apa yang alam bawah sadarku rindukan selama beberapa minggu ini. Ya, suaranya. Suara yang sebelumnya hampir aku dengar sepanjang waktu, dari bangun tidur hingga malam menjelang. Suara yang aku dengar dari barisan kursi belakang pada jam kuliah, dan suara yang terngiang sepanjang perjalanan pulang saat ia mengantarku pulang dari kampus.

“Kabarku baik, Adnan. Kau sendiri?”

“Baguslah. Tidak ada kabar yang lebih menyenangkan daripada mendengar kau baik-baik saja, tidak pula kabarku.”

Kalimat terakhirnya membuat hatiku serasa disayat-sayat.

“Tolong jangan berkata begitu.”

“Aku hanya bicara tentang fakta, Nouri. Dan tanpa bertanyapun, harusnya kau tahu bagaimana kabarku.”

“Adnan…”

“Tidak, Nouri. Aku tidak baik-baik saja. Tidak pernah sekalipun kabarku baik-baik saja semenjak kepergianmu dua bulan lalu. Kau pergi dah hilang begitu saja serupa angin yang hanya datang menyapa.”

Aku tengah menahan air mata dengan susah payah saat keheningan kembali menyelimuti kami. Rasanya mataku sudah basah, tapi pikiranku menahannya agar tidak jatuh. Ia tidak boleh jatuh, atau pertahananku akan begitu saja runtuh.

Pertahanan. Sebuah dinding yang berhasil aku bangun selama dua bulan. Dinding untuk menutup mata pada apapun yang pria ini lakukan. Dinding untuk menutup telinga dari kabar kabar apa saja tentang kehidupannya. Dinding yang aku bangun untuk menjaga jarak, untuk tidak peduli.

 

***

 

29 Agustus 2015

“Kita sudah berakhir, Adnan,” jelasku pada sebuah malam dingin pada akhir bulan Agustus.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jalanan sudah demikian sepi ditinggal penghuninya menuju alam mimpi. Kami duduk di halaman kosku, di bawah remang remang cahaya lampu kuning yang seharusnya sudah waktunya diganti. Bulan tidak bersinar malam ini, mungkin ia lelah berputar seharian, mungkin ia jengah dengan bumi, atau mungkin ia memahami bahwa pertemngkaran ini tak layak untuk disaksikan.

“Tapi aku masih mencintaimu, Nouri. Tidakkah perasaanmu demikian juga? Katakan dimana letak kesalahanku, agar bisa kuperbaiki, agar kau bisa menerimaku lagi.”Read More »

Miracle

Anakku bernama Mir. Iya, memang hanya satu kata saja. Mir dari Miracle. Miracle yang berarti keajaiban. Seorang anak yang pada awalnya tidak pernah terpikir untuk aku lahirkan. Seorang anak dari ayah yang wajahnya tidak pernah sekalipun aku tanamkan dalam ingatan. Seorang anak yang menjadi kekuatan terbesar dalam hidupku ketika seisi dunia pergi meninggalkan.

Ia bermata biru, entah mirip siapa. Ia berambut pirang, entah mirip siapa. Ia juga berkulit putih bersih, entah mirip siapa. Entah mirip siapa kelahiran fisiknya, yang aku tahu ia mewariskan kekuatan dan keberanian dariku, ibunya. Siapapun paham bahwa berat lahir sebagai seorang anak tidak memiliki ayah, tapi begitu sedikit yang mau mengerti dan membiarkan latar belakang semacam itu berlalu.

Setidaknya begitu yang dialami Mir. Umurnya 6 tahun dan baru duduk di kelas 1 SD, tapi seringkali ia pulang kerumah dengan lebam di tubuhnya, dengan luka di pelipisnya. Terkadang ada pula bercak darah di bajunya.

Saat kutanyakan mengapa, ia hanya menjawab santai dengan senyuman hangat tersungging di sana, “Aku membela diri, anak-anak itu mengejek ibu perempuan murahan, dan menyebutku anak haram. Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi mereka mengatakannya dengan suara tawa yang sangat membecikan, Ibu. Jadi aku melawan.”

Ada yang seketika menyayat hatiku mendengar pernyataan Mir. Bagaimana bisa anak sekecil ini menanggung beban hidup seberat itu? Pada usia di mana seharusnya ia bermain bersama teman sebayanya, mereka justru tidak bisa menerima latar belakang kami.

“Tenang, Ibu, aku tidak menangis dan hanya memberi sedikit pelajaran kepada mereka. Luka-luka ini juga tidak sakit, Ibu, tempelkan saja beberapa plester di sini maka aku akan segera sembuh dan bisa melindungi ibu lagi.”

Mir, malaikat kecilku, memperlihatkan gigi-gigi kelincinya yang tertata rapi. Manis sekali. Ia selalu berhasil membuat airmataku tidak tumpah. Ia selalu berhasil menguatkan, menempelkan plester pada hati ibunya yang luka.

 

***

 

Enam tahun lalu aku juga pernah pulang kerumah dengan lebam di sekujur tubuh dan luka di pelipis. Tapi yang kudapat di rumah lebih mengerikan dan menyakitkan daripada luka fisik manapun.

“Pergi kau anak tidak tahu diri!”

Ayahku, cinta pertamaku, pria pertama yang aku pikir akan selalu melindungiku entah apapun yang terjadi, yang kuanggap akan dengan lapang dada memaffkan entah apapun kesalahan putrinya. Namun seketika bayangan-bayangan kebaikan tersebut sirna.

Belum selangkahpun menginjakkan kaki di teras rumah, ayah yang keluar dan melihatku datang dengan perut besar seketika murka. Tanggannya mengepal, nafasnya tersengal, tapi ia tak bergeming. Ia memaki, menghujat, dan mengatakan berbagai hal yang tak pantas diucapkan oleh seorang ayah. Begitu saja ia marah, tanpa sedikitpun bertanya mengapa dan apa yang terjadi pada putrinya. Apa yang terjadi, Nak? Pria mana yang tega melakukan ini kepada putriku? Mengapa kau baru datang dan tidak mengatakan apapun sejak awal?

Tidak. Tidak ada yang ayah tanyakan. Dari pintu kulihat ibu muncul dengan tergesa-gesa, celemek masak masih menempel di tubuhnya. Kutebak ia sedang menyipakan makan siang ketika keributan ini terjadi.

Melihatku, seketika air mata mengalir dari pelupuk matanya. Ia hendak berlari memelukku tapi ayah dengan tegas menahan tubuhnya.

“Biarkan saja anak tidak tahu diri itu. Tidak pernah berkabar kemudian pulang dengan perut besar, apa maunya? Pulang? Aku tidak bisa memaafkannya, Ainun,” kata ayah kepada ibu sebelum kemudian kembali menatapku, “jangan pernah kembali, jangan harap kau akan dimaafkan, jangan harap aku akan mengganggap anak di dalam kandunganmu itu cucuku.”

Setelah kata-katanya selesai diucapkan, aku benar-benar pergi, tidak menoleh sedikitpun meski sampai jauh masih kudengar suara ibu memanggil. Menangis? Tidak. Yang kualami bukan kesedihan, tapi ketidakadilan. Orangtua mana yang tega berbuat demikian kepada anak kandungnya?

Padahal awalanya aku tidak bercerita perihal apa dan mengapa hal ini terjadi tidak lain karena tidak ingin menyakiti hati mereka berdua. Dan pada akhirnya aku datangpun karena sadar menyembunyikan semua ini dari orang tua bukan hal yang bisa dibenarkan. Tapi sepatahkatapun ayah enggan mendengarkan. Lalu bagaimana bisa kujelaskan bahwa putrinya telah menjadi korban perlakuan pria tidak bertanggung jawab? Bagaimana bisa kukatakan bahwa yang putrinya butuhkan sekarang adalah pelukan-pelukan menenangkan dari orang tersayang?

***

Mir baru saja sampai di rumah. Kali ini bukan bekas lebam atau luka yang anak itu bawa, tapi selembar tugas rumah. Selembar tugas yang membawaku pada ingatan 6 tahun silam, kepada dua sosok manusia yang masih dan selalu aku anggap sebagai orang tua, yang aku panggil ayah dan ibu, meski perasaan mereka padaku tidak lagi sama.

“Bu Guru bilang aku harus membuat pohon silsilah keluarga. Di sini aku akan menempelkan foto kakek, disebelah ini nenek, lalu di bawahnya foto ayah, ibu, dan aku,” kata Mir seraya menjelaskan di mana foto-foto anggota keluarga perlu diletakkan.

Air mataku hendak jatuh, tapi di depan Mir aku pantang menangis. Hanya aku yang bisa mengajarkan kepadanya apa arti kekuatan dan ketegaran sesungguhnya. Meski ingatan-ingatan masa lalu menggertakku kembali, meski suara teriakan ayah menggema di kepalaku lagi, meski perlakuan mengerikan dari pria yang tidak ingin kusebut sebagai ayah Mir terbayang-bayang di memori, aku tidak ingin Mir melihatku sebagai ibu yang rapuh.

“Ibu akan mengambilkan foto kakek dan nenek dari album, tapi tidak ada foto ayah di sana, Mir. Ayah tidak punya foto, biar untuk foto ayah Ibu gambar saja ya.”

“Tidak perlu, Bu,” Mir tersenyum. “Ibu mengatakan ayah sedang pergi ke tempat yang jauh dan baru akan kembali ketika aku dewasa, tapi aku tahu, aku tidak memiliki ayah, kan? Ayah meninggalkan Ibu dan aku, kan? Jadi aku tidak akan memasukkan ayah di pohon keluarga ini. Tidak apa-apa, Ibu. Bu Guru orang yang sangat baik, ia pasti akan mengerti.”

“Putraku…”

Aku menarik Mir dan memeluknya erat. Tuhan Maha Adil, meski di masa lalu hingga sekarang aku menerima begitu banyak ketidakadilan, ia mengirimkan seorang anak luar biasa. Bersyukur aku memilih untuk melahirkannya ke dunia ini hingga ia tumbuh sebagai anak dengan pemikiran yang begitu dewasa dalam tubuh kecilnya. Yang menjadi sumber semangat dan kekuatan terbesarku dalam menjalani hari.

“Tapi mengapa kita ibu tidak pernah mengajakku bertemu dengan kakek dan nenek? Apa mereka juga jahat kepada ibu?”

Pembicaraan kami terhenti oleh suara dering telfon dari.

Ibu, ia terisak di ujung telfon.

“Hallo Nur, pulanglah, Nak. Ayah sakit. Ia bilang ingin melihatmu dan putramu sebelum Tuhan mengambilnya.”

 

***

 

Sudah mulai senja. Angin sore menerpa rerumputan pekuburan. Membawa do’a-do’a kami kepada Sang Penguasa. Makam ayah masih basah. Mawar yang kami taburpun belum layu sedikitpun.

Mir ada dalam gendonganku. Hari ini, untuk pertama dan terakhir kalinya ia bisa bertemu dengan ayah dan memanggilnya kakek. Mereka tertawa dan bercerita seolah sudah mengenal begitu lama. Maka ketika Tuhan memanggil ayah, aku melihat Mir menangis. Ia bertanya mengapa begitu cepat kakeknya tiada padahal mereka baru beberapa saat saling bercengkrama.

“Ayahmu menyesali kepergiamu, Nur, ia menyesal mengusirmu tanpa bertanya mengapa, tapi keras kepalanya kepalang tinggi. Ia menderita, tapi tak mau mengalah pada harga diri. Ibu ingin sekali menemuimu, tapi ayah melarang dengan keras”

“Tidak apa-apa, Bu. Nur sudah ikhlas, ayah dan ibu sudah Nur maafkan.”

Ibu tersenyum dan mengambil Mir dari gendonganku. “Maaf ya, Sayang, kami menyulitkan hidupmu dan ibumu. Dan terimakasih, pada akhirnya nenek bisa melihat kakekmu tertawa lagi karena dirimu. Kamu adalah keajaiban bagi keluarga ini.”

Mir menggeleng. “Tidak apa-apa, Nek. Aku bahagia, aku bisa melawan anak anak yang jahat kepadaku dan ibu. Aku juga bahagia bisa bertemu dengan nenek dan kakek. Aku bahagia karena akhirnya pohon silsilah keluarga yang kubuat bisa berubah menjadi kenyataan. Ibu, apakah setelah ini kita akan tinggal bersama nenek?”

Aku mengecup puncak kepalanya. “Tentu saja, Mir. Kita akan tinggal bersama, sekarang dan selamanya.”

Sepotong Hati untuk Berlian

“Arungga sakit, Nak Lian. Tak pernah sekalipun harinya ia lewatkan di rumah sakit tanpa menyebut namamu.”

Tanpa diduga sebelumnya, ada petir tak kasar mata yang datang mengguncang duniaku siang ini. Menyengat setiap jengkal kulit tubuhku tanpa ampun. Kabar sakitnya ia begitu tiba-tiba, sebagaimana kepergiannya dahulu. Air mataku pecah berderai membasahi lembar jawaban ulangan tengah semesterku di meja. Kelas yang sedari tadi hening mendadak ribut, tak lagi memperhatikan soal ulangan mereka. Beberapa langsung mendekat, bertanya apa yang terjadi, tak terkecuali dosen penjaga ujian.

“Ada apa, Berlian?” tanya beliau saat sampai di mejaku.

Ponsel sudah kumatikan, namun isaknya tak kunjung berhenti. Aku merasa lututku begitu lemas dan dadaku demikian panas. Dengan segera aku meminta izin kepada dosen penjaga untuk mengikuti UTS di lain hari. Beliau terkenal karena ketegasannya yang tanpa ampun, tapi melihatku kacau, izinnya diberikan kepadaku begitu saja.

Sepanjang lorong gedung kampus puluhan pasang mata memandangku, mungkin bertanya-tanya mengapa ada perempuan yang berlarian dengan mascara luntur tak teratur. Siapa peduli. Ada masalah yang lebih besar daripada UTS, daripada tatapan-tatapan ingin tahu mereka, daripada maskaraku.

Arungga.

Seseorang dari masa lalu. Laki-laki yang kucintai lebih dari diriku sendiri.

Yang meninggalkanku.

 

***

 

Ibu kini terlihat begitu kurus. Ada lingkaran hitam baru yang muncul di bawah mata. Tubuhnya tak lagi gempal, pun tak ada tanda-tanda riasan di wajahnya. Beliau tampak lebih tua dari usianya, padahal setahun lalu kami masih berbelanja bersama di mall seperti layaknya kakak adik.

“Selamat siang, Ibu,” sapaku sembari mencium punggung tanggannya.

“Siang, Nak. Ayo langsung masuk saja. Dia di kamar VIP paling ujung. Ibu di depan sini saja, mencari udara segar. Kalian bicaralah.”

Aku mengangguk. Sepanjang koridor rumah sakit jantungku berdegup tak terkendali. Entah apa hatiku ributkan. Mungkin sisa-sisa rindu dan cemburu. Mungkin khawatir yang mendadak hadir. Aku bahkan tidak tahu apa kalimat pertama yang harus kuucapkan setelah membuka pintu.

“Berlian…”Read More »